Monday, March 13, 2017

Gemercik Suara Daerah Aliran Sungai



Ilustrasi
Ilustrasi

















Dari tahun ketahun Isu hidrologis yang utama adalah dampak dari lenyapnya penutupan hutan pada kualitas dan kuantitas aliran sungai, erosi tanah dan sedimentasi yang terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) ini diakibatkan oleh peti (air PDAM keruh); kebun sawit yang tidak ramah lingkungan; ilegal logging; kebakaran hutan/gambut ; sistem ladang berpindah

Bantaran sungai yang terkikis merupakan hal yang umum di jumpai di sepanjang aliran sungai dan pembuatan jalan pintas bagi kapal motor di dalam meandering  juga menambah permasalahan dalam kasus sedimentasi. Peringatan hari air sedunia yang akan dilaksanakan pada tanggal 23 maret merupakan tolak ukur bagai mana kondisi pengelolaan setiap DAS yang ada semakin baik atau semakin rusak, peran serta semua pihak diperlukan dalam mengsingkronkan pengembangan pembangunan didaerah DAS pada saat ini sehingga kegiatan yang dilaksanakan tidak memberikan dampak negative pada lingkungan pada masa yang akan datang.

Permasalahan DAS di Kalbar
      Ketergantungan masyarakat  (2 jt-an jiwa) disekitar DAS meliputi:
     Sumber Air Bersih;
     Transportasi;
     Sumber income (livelihood) lainnya seperti usaha perikanan;
      60% daerah aliran sungai (watershed) di Kalimantan Barat mengalami krisis yang terjadi sebagai akibat pembukaan dan pengembangan kawasan watershed secara eksploitatif.

      Kerusakan tersebut berasal dari berbagai aktifitas seperti:
     Penambang Emas Tanpa Izin (illegal mining) yang menggunakan mercury dsb;
     Logging;
     Forest convertion for large scale oil palm plantation;
     Aktivitas industri lainnya.
     Abrasi Pantai
     Kerusakan Mangrove, Pesisir dan Terumbu Karang
     Penambangan pasir dan Pencurian Pasir dari Pulau Kecil
     Pencurian Ikan, dsb.

      Dipengaruhi oleh berbagai aktivitas yang terjadi di diberbagai wilayah Kalimantan Barat dan sepanjang DAS terdapat beberapa bencana yang selalu mengintai kita, diantaranya :
     Banjir;
     Tanah longsor;
     Menurunnya peran dan fungsi Sungai
                    –  Kekeringan.































IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK DAS
Untuk perencanaan ke depan diperlukan identifikasi DAS di Kalbar melalui :
      Penataan DAS dan Sub DAS menurut satu kesatuan ekosistem (satu sistem hidrologis) masing-masing.
      Tentukan Marfologi dan marfometri masing-masing DAS – Sub DAS yang ada
      Deskripsi unsur-unsur DAS terkait

INTERAKSI UNSUR-UNSUR EKOSISTEM DAS
      Berbagai unsur ekosistem DAS (termasuk air hujan sebagai input utama) saling berinteraksi dan  menghasilkan air yang mengalir di sungai sebagai output dalam kondisi normal.   Perubahan salah satu unsur secara drastis, seperti halnya pembukaan vegetasi hutan atau perubahan bentang lahan termasuk akibat pembukaan pertambangan, akan mempengaruhi produksi air baik kuantitas maupun kualitas air sungai. 
      Unsur-unsur ekosistem DAS tersebut secara keseluruhan terdiri dari :
         A. Geologi
         B. Tanah
         C.  Iklim
         D.  Air tanah dan akuifer
         E.  Masyarakat tumbuhan dan hewan
         F.  Pola Penggunaan lahan (land use)

         G.  Sistem sosial-ekonomi masyarakat
         H.  Nilai peradaban dan aktivitas manusia
          I.   Aliran pemukaan/sungai,
         J.   Kualitas air sungai

SASARAN PENGELOLAAN DAS
      Sasaran pengelolaan DAS adalah untuk meningkatkan dan mengembangkan sumber daya air dan penggunaan lahan yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. 
      Untuk mewujudkan itu diperlukan upaya rehabilitasi lahan terlantar dengan mengindahkan kegiatan konservasi tanah dan air, disamping memberikan perlindungan pada lahan-lahan yang peka erosi dan longsor. 
      Untuk kawasan perhuluan perlindungan DAS diarahkan pada pengembangan penutupan vegetasi berupa hutan dan tanaman keras, sedangkan pada kawasan hilir dapat dikombinasikan dengan bangunan struktursl atau fisik.
      Pengelolaan DAS merupakan proses perumusan dan pelaksanaan kegiatan yang meliputi pemanipulasian sumber daya alam, sumber daya pertanian dan sumber daya manusia yang semuanya berada dalam suatu DAS, yang bermanfaat sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dengan tetap menjaga kondisi sumber daya tanah dan air.

PENGELOLAAN DAS TERPADU
      Banyaknya unsur-unsur seperti dikemukakan terdahulu yang membentuk ekosistem DAS sehingga diperlukan keterpaduan dalam pengelolaannya.
      Pengelolaan DAS terpadu mencakup keterpaduan aspek kegiatan, keterpaduan disiplin ilmu atau keahlian, dan keterpaduan kelembagaan yang berwenang terhadap pengelolaan DAS. 
      Pengelolaan DAS perlu pula mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi dan institusi atau lembaga dan semua stakeholder yang ada baik di dalam maupun diluar ekosistem DAS tersebut.

REKOMEDASI UNTUK IMPLEMENTASI MODEL PENGELOLAAN DAS
      Perencanaan DAS yang cukup komprehensif dapat menjamin  semua penerapan sistem distribusi termasuk kualitas airnya dan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi.
      Perlunya informasi tentang regime hidrologi dari DAS yang dikelola
      Perlu adanya suatu sistem analitik atau model yang mampu memberikan wawasan penuh tentang dampak yang akan dihasilkan oleh penggunaan khusus lahan dan pembangunan dalam DAS
      Adanya tujuan pengelolaan khusus bagi DAS dengan kriteria yang tertuju pada alternatif pengelolaan secara benar dan terarah.
      Adanya partisipasi semua pihak yang berwenang, termasuk masyarakat.
      Luasnya DAS dan hirarki atau ordo DAS yang banyak memerlukan wewenang pada masing-masing sub DAS yang ada di KalBar
Perlu provisi bagi mereka yang berpartisipasi dalam penentuan tujuan dan dalam pengambilan keputusan serta implementasi pengelolaan DASnya

Sunday, February 12, 2017

Dakwah Lingkungan


Sabtu sore didepan posko tur dakwah dan bakti sosial IAIS Sultan M. Tsjafioedin Sambas yang berdekatan dengan pesantren Akhlakul Karimah Musliadi .B sedang melihat peserta mempersiapkan acara perpisahan pada malam minggu dengan masyarakat Dusun Setingga Asin Desa Sebubus, mentor 22 tahun ini sudah menyelesaikan tugasnya selama lima hari.

Beragam aktifitas sudah dilaksanakan oleh para peserta walaupun dalam waktu yang singkat perasaan senang terpancar dari raut wajah mereka
mereka apalagi dengan disambut dengan baik dan ramah oleh masyarakat setempat, kegiatan dakwah yang dilakukan tidak hanya di masjid ataupun sekolah tapi juga dapat dilakukan di alam terbuka.

Pendidikan tentang alam dan lingkungan juga sangat penting karena berpengaruh sangat besar bagi kehidupan manusia sebagaimana dalam Al-Quran Surah AR-Rum ayat 41 yang artinya: telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).

Lokasi hutan mangrove yang berdekatan dengan posko dijadikan sarana tempat pembelajaran bagi mereka pada jum’at pagi (10/2), kegiatan lapangan ini dipandu oleh Ramli selaku Kepala Dusun Setingga Asin sekaligus anggota komunitas Kalilaek & Green Leaf bersama Jumianto, U.Mulyadi dan Dani.
Sebelum kegiatan dimulai Darmawan ketua komunitas lingkungan setempat memberikan penjelasan dan gambaran tentang mangrove, dikarenakan banyak yang belum mengetahui apa itu mangrove, fungsi serta manfaatnya ditambah tentang satwa endemik bekantan dan lain sebagainya.

Peserta yang ikut juga ada dariposko DusunSebuluh yang kemudian dibagi empat kelompok, ada yang menanam bibit bakau, membersihkan sampah, mengecat dan memasang banner himbauan tentang lingkungan.Terdengar suara kecerian dan kegembiraan saat mereka berlumpur di hutan mangrove karena baru pertama kali mengikuti kegiatan seperti ini merasakan sensasi alam dan sambil mencar tengkuyung yang biasanya didapat dari pasar dan itupun harganya juga mahal sekarang dapat mencarinya secara langsung celoteh mereka.

Harapan mereka kegiatan yang menarik seperti ini dapat terusdi lanjutkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang lingkungan agar lebih memahami dan mencinta alam yang ada, begitu juga tentang lokasi ecowisata mangrove agar jalur lintasannya dapat diperpanjang dan fasilitasnya ditambah agar lebih menarik dan pengunjung lebih betah berada dilokasi ini.

Yang pasti menjaga kelestarian alam dilaut dan didarat adalah tugas bersama, jika alam hancur
dan rusak maka dampaknya kita juga yang merasakan karena sudah banyak contoh yang harus diambil hikmahnya. Mari jaga dan lestarikan untuk masa depan yang lebih baik untuk warisan anak cucu nanti.



Friday, January 27, 2017

Siapkah Kelola BUM Desa Untuk Masyarakat

Ilustrasi
Ilustrasi













Ilustrasi
Jika melihat perkembangan dan bertambahnya Anggaran Dana Desa (ADD) saat ini yang mencapai satu milyar lebih dirasakan banyak hal yang dapat dibuat oleh Pemerintahan Desa dalam pembangunan, ADD yang ada tidak hanya untuk pembangunan fisik saja namun harus bisa meningkatan sumber daya manusia dengan pengembangan kapasitas masyarakat desa itu sendiri dalam peningkatkan perekonomian.

Desa sebagai mana kita ketahui sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ilustrasi
 


Sedangkan Pemerintahan Desa sendiri adalah penyelenggara urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerintahan Desa dapat membuat suatu terobosan baru dengan membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mendorong atau menampung seluruh kegiatan peningkatan pendapatan masyarakat, baik yang berkembang menurut adat Istiadat dan budaya setempat,
Ilustarsi
maupun kegiatan perekonomian yang diserahkan untuk di kelola oleh masyarakat melalui program atau proyek Pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah.
 

Sasaran pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui BUMDes ini adalah untuk melayani masyarakat desa dalam mengembangkan usaha produktif dengan tujuan menyediakan media beragam usaha dalam menunjang perekonomian masyarakat desa sesuai dengan potensi desa dan kebutuhan masyarakat.
  
Badan Usaha Milik Desa atau yang dikenal dengan BUM Desa adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa. Selain program Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia ada beberapa kementrian yang saat ini juga mengarahkan hasil program  kegiatan mereka berupa peningkatan ekonomi yang ada dimasyarakat melalui BUM Desa atau Koperasi. hal ini dimaksudkan sebagai bentuk kerjasama masyarakat dengan pemerintahan desa terkait pembiayaan yang dapat ditangani dari anggaran dana desa agar terciptanya kemandirian ekonomi produktif.

Jenis usaha yang dilakukan dapat dikombinasikan dengan aset-aset desa yang ada dengan potensi ekonomi yang ada dimasyarakat meliputi bidan maupun hasil pertanian, perikanan, perkebunan, perternakan, jasa air, jasa lingkungan, jasa transportasi, telekomunikasi, pariwisata, pasar desa serta bisnis produktf lainnya.

Untuk melangkah lebih jauh tentang BUM Desa tentunya harus mengetahui langkah-langkah maupun persayaratan yang sudah diatur didalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa Dan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Pendirian, Pengurusan Dan Pengelolaan, Dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa.

Agar apa yang akan dicapai melalui melalui kegiatan usaha yang dilakukan dapat berjalan lancar sesuai dengan harapan serta berguna untuk pembagunan desa dan kesejahteraan masyarakat, harus ada peraturan desa yang mengatur agar hasil usaha yang dibangun dan didapat adalah secara legal bukan masuk dalam kategori pungli.
Mari berfikir fositif, kreatif tinggalkan pola-pola lama yang tidak sehat dan merugikan dengan kemandirian  melalui kerjasama yang baik antara Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa,lembaga kemasyarakatan Desa, lembaga Desa lainnya dan tokoh masyarakat.

Tuesday, January 3, 2017

Melirik Potensi Mangrove Sebagai Alternatif Sumber Pangan





Bagian II
Dari hasil penelitian bahwa banyak spesies mangrove yang secara tradisional sudah dikonsumsi oleh masyarakat pesisir, namun pemanfaatan mangrove sebagai bahan pangan hanya bersifat insidentil atau dalam keadaan darurat jika terjadi krisis pangan, sebenarnya ada buah mangrove yang dapat secara spesifik di manfaatkan sebagai sumber pangan kaya karbohidrat yaitu dari spesies (Bruquiera gymnorrhiza) lindur atau tumok. Buah mangrove jenis lindur dapat dieksplorasi menjadi bahan pangan alternative, buah jenis inidapat diolah menjadi tepung kandungan gizinya terutama karbohidrat sangat dominan sehingga bisa di jadikan sumber pangan baru berbasis sumber daya lokal mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga bisa membudidayakan mangrove jenis lindur ini disepanjang garis pantai.
Tepung ini mempunyai derajat putih yang rendah tetapi justru dalam aplikasi untuk pengolahan pangan tidak dibutuhkan pewarna makanan secara alami buah lindur atau tumok        (Bruquiera gymnorrhiza)ini memberikan warna kecoklatan bisa dibentuk menjadi adonan yang kalis dan mempunyai kandungan amilosa hampir sama dengan beras yaitu sekitar 17%.Tepung buah lindur yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria tepung yang bisa dikonsumsi.Kadar air, karbohidrat, abu dan serat sudah memenuhi standar SII untuk tepung. Faktor pembatas buah lindur antara lain tanin dan HCN juga berkurang secara signifikan dengan pengolahan sehingga tepung buah lindur ini aman untuk dikonsumsi.
Buah mangrove jenis lindur (Bruquiera gymnorrhiza) yang secara tradisional diolah menjadi kue, cake, dicampur dengan nasi atau dimakan langsung dengan bumbu kelapa mengandung energi dan karbohidrat yang cukup tinggi, bahkan melampaui berbagai jenis pangan sumber karbohidrat yang biasa dikonsumsi masyarakat seperti beras, jagung singkong atau sagu. Kandungan energi buah mangrove ini adalah 371 kalori per 100 gram, lebih tinggi dari beras (360 kalori per 100 gram), dan jagung (307 kalori per 100 gram). Kandungan karbohidrat buah bakau sebesar 85.1 gram per 100 gram, lebih tinggi dari beras (78.9 gram per 100 gram) dan jagung (63.6 gram per 100 gram).


Selain lindur (Bruquiera gymnorrhiza) masih ada tumbuhan mangrove yang berpotensi dikembangkan menjadi pangan fungsional penurun tekanan darah adalah buah pedada atau gerambang (Sonneratia). Buah pedada merupakan tumbuhan mangrove yang kaya akan kandungan serat dan mineralmaupun vitamin yang telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia menjadi produk olahan pangankhusus di Sebubus ada dua jenis namun yang digunakan adalah Sonneratia ovate, buah pedada memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dimana di dalam buah pedada terkandung beberapa senyawa bioaktif diantaranya favonoid, luteolin, dan luteolin 7-O-ß-glucoside, steroid, triterpenoid, dan turunan benzenecarboxylic, dan Oleanolic acid, ß-sistosterol-ß-D-glucopyranoside. Dengan demikian, berdasarkan kandungan kimia buah pedada dapat disinyalir berpotensi sebagai antioksidan dan agen hipotensif
Buah pedada mengandung beberapa senyawa bioaktif diantaranya favonoid, luteolin, dan luteolin 7-O-ß-glucoside (Wu et al., 2009), steroid, triterpenoid, dan turunan benzenecarboxylic dan Oleanolic acid, ß-sistosterol-ß-D-glucopyranoside.Ekstrak buah pedada memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dan mampu mencegah peroksidasi lipid.Adapun Manfaat Sirup Buah Mangrove jenis pedada atau(Sonneratia ovate) berdasarkan penelitian dengan Nilai keunggulan antara lain adalah memiliki kandungan vitamin C cukup tinggi (50,1 mg/100 gr sirup), dan mengandung iodium dengan kadar 0,68 mg/kg sirup.
Dalam tubuh vitamin C berfungsi sebagai antioksidan 28,67 (EC50) µg/ml)serta Peroksidasi Lipid 15,49(IC50) µg/ml, sedangkan Iodium untuk sistesis hormon tiroksin, yaitu suatu homon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan, perkembangan, dan kecerdasan. sirup “ Mangrove” telah layak dan aman untuk dikonsumsi karena bebas dari bahan berbahaya dan beracun, sehingga aman untuk dikonsumsi dan diproduksi secara berkelanjutan.Sirup buah pidada Mangrove yang memiliki rasa dan aroma yang khas, serta beriodium dan bervitamin C, B1, B2, A.
Berdasar uraian diatas berbagai jenis buah mangrove yang ada cocok untuk dikembangkan sebagai sumber pangan lokal baru, terutama di Kecamatan Paloh sebagai daerah pesisir yang memiliki mangrove yang luas serta kondisinya masih bagus.Tentunya dengan segala potensi yang ada perlu adanya dukungan dari segala pihak dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan dan pengembangan ekonomi produktif masyarakat.
Dari berbagai sumber

DIANGGAP HAL BIASA SEKARANG JADI PILIHAN

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya tempat aktifitas masyarakat sehari-hari  di hutan mangrove untuk mencari kepiting, kuyung, kepah sebagai sumber penghasilan yang dianggap hal biasa sekarang menjadi ramai dikunjungi warga dari berbagai wilayah, begitu juga dengan istilah mangrove mulai dikenal oleh masyarakat luasyang biasanya hanya dikenal dengan namanya bakau. Terobosan baru bagi daerah ini menjadi tujuan wisata semenjak selesai dibangunnya jembatan dan jalan titian atau track dimangrove Dusun Setingga Asin yang berdampingan dengan Dusun Setingga Desa Sebubus Kecamatan Paloh pada akhir Nopember 2016 perlu jadi acuan untuk pengembangan kedepan dan tidak hanya sebagai tempat wisata lokasi ini bisa jadi sarana pendidikan maupun penelitian.


Walaupun masih tergolong baru namun antusias pengunjung yang penasaran mengenai ecowisata mangrovemembawa mereka ketempat ini, setiap hari selalu ada yang datang berkunjung apalagi hari minggu.Suasana hutan mangrove yang masih alami dengan suasana teduh, sejuk dan indah dengan kicauan suara burung membuat pikiran menjadi tenang dan ditambah denganadanya satwa endemik Kalimantan bekantan yang sering terlihat dipinggir-pinggirsungai membuat tempat ini dapat menjadi alternative tujuan wisata. Bagi anak-anak muda yang senang dengan foto  kreasi untuk menghiasi profil mereka dengan latar belakang pepohonan membuat suasana hutan mangrove ini menjadi ceria dan hidup didunia maya.


Pada awal tahun baru 2017 minggu (1/1) jumlah pengunjung yang datang membludak sampai ribuan orang, terlihat dari kendaraan diparkiran sampai track yang penuh sesak sampai-sampai untuk berselisih jalan juga kesulitan sakingramainya orang yang datang apalagi ada yang selfi didepan disaat ramai bakalan macet jalan track, hal ini dikarenakan track yang digunakan baru satu jalur dengan ukuran panjang  438 Mlebar    1,30 M ditambah stagher kecil di ujung track menuju sungai  sehingga pengunjung hanya bolak balik. Melihat kondisi ini perlu peningkatan dan pengembangan lebih lanjut dengan memperpanjang track untuk mengelilingi pulau, gazebo, warung makanan, moshola, perahu wisata, outbound dan yang tak kalah pentingnya adalah wc.

Bagaimana tidak bagi pengunjung yang sudah tidak tahan lagi mau buang air besar atau kecil harus turun kelumpur hutan mangrove tak bisa terbayangkan bagaimana jadinya, kalau lelaki mungkin bisa bagaimana jika perempuan waduh bisa gawat urusannya. Hal ini sudah dipikirkan pengelola dan tentunya juga perlu perhatian dari segala pihak, terutama Pemerintah harus segera turun tangan untuk membantu mengatasi hal ini, masyarakat sudah berbuat sesuai kemampuan dan perlu didukung dalam membangun sarana dan prasarana untuk mengembangan daerah ini. Dengan semakin baiknya fasilitas ecowisata ini diharapkan pengunjung lebih betah dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi
masyarakat dengan menjual beraneka panganan ala mangrove, souvenir, home stay, rumah makan, jasa angkutan sungai dan sebagainya.


Bagi para pengunjung juga harus memperhatikan himbauan yang disampaikan KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA SEKTOR PALOH tentang :

1.   Menjaga Keamanan dan Ketertiban masyarakat.
2.  Tidak membawa Miras, Senjata Tajam, Senpi, Narkoba, maupun hal-hal yang dapat merusak dan menimbulkan gangguan Keamanan dan Ketertiban masyarakat (kamtibmas).

3.  Tidak menyalah gunakan tempat ecowisata mangrove pada malam hari yang dapat menimbulkan gangguan Keamanan dan Ketertiban masyarakat (kamtibmas) dan tidak sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

Selain itu pengelola juga menyampaikan himbauan agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan, mematahkan dahan dan ranting pohon yang ada di lokasi Ecowisata Mangrove.Jika kedapatan melakukan hal tersebut diberikan sanksimenanam pohon mangrove minimal 2 pohon.Mari dukung gerakan pelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.


Sunday, December 25, 2016

Melirik Potensi Mangrove Sebagai Alternatif Sumber Pangan

Bagian I

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang hakiki dan pemenuhan kebutuhan pangan harus dilaksanakan secara adil dan merata berdasarkan kemandirian dan tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat seperti yang diamanatkan oleh UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan. Upaya pemenuhan kebutuhan pangan harus terus dilakukan mengingat peran pangan sangat strategis, yaitu terkait dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia, ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional sehingga ketersediaanya harus dalam
jumlah yang cukup, bergizi, seimbang, merata dan terjangkau oleh daya beli masyarakat.

Saat ini jumlah penduduk Indonesia telah mencapai lebih dari 252 juta jiwa yang mengakibatkan kebutuhan pangan terus meningkat, pemenuhan kebutuhan pangan bagi penduduk di seluruh wilayah pada setiap saat sesuai dengan pola makan dan keinginan bukanlah pekerjaan yang mudah karena pada saat ini fakta menunjukkan bahwa pangan pokok penduduk Indonesia bertumpu pada satu sumber
karbohidrat yang dapat melemahkan ketahanan pangan dan menghadapi kesulitan dalam pengadaannya. Masalah pangan dalam negeri tidak lepas dari beras dan terigu yang ternyata terigu lebih adoptif daripada pangan domestik seperti gaplek, beras jagung, sagu atau ubijalar, meskipun di beberapa daerah penduduk masih mengkonsumsi pangan tradisional tersebut.
Potensi sumber daya wilayah dan sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia memberikan sumber pangan yang beragam, baik bahan pangan sumber karbohidrat, protein maupun lemak sehingga strategi pengembangan pangan
perlu diarahkan pada potensi sumberdaya wilayah dan sumber pangan spesifik. Indonesia sebagai negara kepulauan terbanyak di dunia memiliki 13,466 pulau dengan garis pantai sepanjang 99,093 kilometer terpanjang nomor dua terpanjang didunia setelah Kanada dengan memiliki potensi sumberdaya pesisir dan lautan yang sangat besar.


Belum banyak pengetahuan tentang potensi dan manfaat mangrove sebagai sumber pangan, dari hasil beberapa penelitian yang dilakukan bahwa masyarakat telah memanfaatkan buah mangrove
untuk dimakan terutama jenis Bruguiera gymnorrhiza yang buahnya dibuat tepung dan diolah menjadi kue. Penduduk yang tinggal di daerah pesisir pantai atau sekitar hutan mangrove seperti di Muara Angke Jakarta dan teluk Balikpapan secara tradisional juga telah mengkonsumsi beberapa jenis buah mangrove sebagai sayuran, seperti Rhizopora mucronata, Acrosticum aerum (kerakas) dan Sesbania grandiflora (turi). Bruguiera gymnorrhiza yang biasa disebut Lindur atau tumok dikonsumsi dengan cara mencampurkannya dengan nasi sedangkan buah Avicennia alba (api-api) dapat
diolah menjadi keripik dan kue. Buah Sonneratia alba (pedada) diolah menjadi sirup, dodol, selai dan permen. Begitu pula di sebagian wilayah Timor barat, Flores, Sumba, Sabu dan Alor, masyarakat menggunakan buah mangrove ini sebagai pengganti beras dan jagung pada waktu terjadi krisis pangan. Masyarakat di kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sudah terbiasa mengkonsumsi buah mangrove dan kacang hutan sebagai pangan lokal pada waktu tertentu.

Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas sebagai daerah pesisir yang memiliki hutan mangroveyang cukup luas namun potensi ini belum termanfaatkan dengan baik selama ini, pada tahun 2016 ini baru diperkenalkan berbagai macam olahan buah mangrove dengan pelatihan melalui Pogram Pengembangan Kawasan Pesisir Tangguh (PKPT) dari Kementrian KKP dan Pelaksana kegiatan DKP Kab. Sambas bersama Tim Teknis SKPD Sambas ditiga Desa yaitu Sebubus, Nibung dan Malek menunjukkan hasil yang baik. Walaupun masih tergolong baru Alhamdulilah Kelompok Masyarakat Pesisir (KMP) bentukan PKPT ini yang diberi nama “Gerambang Lestari” yang diketuai oleh Ibu Wajjah di Dusun Jeruju Desa Sebubus sudah dapat memproduksi olahan buah mangrove seperti Buah Sonneratia jenis ovata yang terdapat didaerah ini dibuat sirup, minuman segar yang dikemas menggunakan gelas plastik, dodol, selai dll serta sudah dipasarkan terutama di lokasi ecowisata mangrove. Bersambung..........