Wednesday, August 6, 2014

HARI RAYA DITENGAH MUSIBAH YANG MELANDA

Gema Takbir, Tahmid, Takbir berkumandang sebagai tanda hari kemenangan telah tiba dengan merayakan Idul Fitri 1435 H, ditengah suka cita merayakan lebaran ada juga warga yang sibuk menjaga kebun mereka yang masih utuh lantaran musibah kebakaran besar-besaran yang melanda daerahku Paloh.

Musim kemarau yang dimulai sejak bulan Januari 2014 mengakibatkan kebakaran memenghabiskan ratusan hektar hutan, gunung juga
terbakar serta kebun mulai dari sawit, karet, lada serta tanaman lainnya. Kebakaran kali ini membuat para warga yang berkebun menjadi lesu bagai mana tidak tanaman yang telah dipanen dan siap panen berumur 4-5 th yang mereka usahakan habis dalam waktu yang singkat tutur ismani (40) warga setingga.
Hal senada juga diungkapkan ramli (39) yang sudah tak mampu lagi memadamkan api siang dan malam dengan alat sederhana yaitu tangki penyemprot padi yang kemampuan serta kapasitasnya yang terbatas
akhirnya membiarkan kebunnya terbakar apalagi di bulan puasa sungguh sangat berat. Akibat kebakaran ini asap yang ditimbulkan membuat kabut tebal sehingga mengganggu jarak pandang, mata menjadi perih, penafasan juga terganggu dan saking panasnya embun dipagi hari juga tak ada.

Bukan hanya kebun sumber air bersih juga kering untuk mandi atau mencuci harus mengambil air dengan jarak yang jauh dan ada juga yang menggali sumur diparit-parit dengan
air yang sedikit, sedangkan untuk minum warga membeli air galon dan tentunya menambah biaya pengeluaran. Belum lagi masalah gagal panen padi jika hal ini terjadi bearti untuk yang kedua kalinya secara berturut-turut, biasanya warga tak kekurangan beras karena stok padi masih banyak dengan kekeringan ini semua menjadi kesulitan. Tak hanya didarat dilautpun bagi para nelayan yang mencari ikan merasakan menurunnya hasil tangkap mereka, tanda-tandanya juga sudah terlihat dengan hilangnya ubur-ubur sebagai tambahan rezeki diawal tahun bagi warga yang biasanya banyak kini tak terlihat.

Tentunya dalam musibah ini bukan hanya manusia yang mengalami kesulitan tumbuhan dan satwa juga mengalaminya, dalam hal ini kita semua harus intropeksi dan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam jangan sampai alam menjadi rusak baik didarat maupun dilaut akibatnya kita juga yang merasakan.

Allah SWT memberikan alam semesta ini kepada manusia agar dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan, namun dalam pemanfaatannya bukan dengan cara berlebihan dan merusak yang tentunya Sang Penguasa Jagat Raya juga tidak suka dan alampun bisa menjadi murka. Manusia, tumbuhan serta satwa semua berdo’a supaya hujan segera turun dan Alhamdulillah pada bebearapa hari yang lalu diawal Agustus ini ad turun hujan walaupun belum seperti yang diharapkan paling tidak dapat membuat keadaan menjadi sedikit lebih baik.

Tentunya dukungan Pemerintah sangat diperlukan dalam mengatasi musibah ini dengan memberikan pencerahan, soialisasi tentang lingkungan agar hal-hal yang tak dinginkan dapat diantisifasi serta melengkapi fasilitas berupa alat pemadam kebakaran, membuat penampungan air dikaki gunung sehingga diwaktu curah hujan tinggi tidak terbuang sia-sia, memanfaatkan rawa untuk sumber air pertanian yang dapat dialirkan sewaktu kemarau tiba serta mereboisasi hutan yang rusak dan membantu masyarakat dalam mengatasi krisis pangan.

No comments:

Post a Comment